HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN BERAT BAYI BARU LAHIR DENGAN KEJADIAN RUPTUR PERINEUM PADA PERSALINAN NORMAL DI BPM Hj.YATMIKA,S.S.T.,M.Kes. KOTA CIREBON PERIODE JANUARI-DESEMBER TAHUN 2014
Abstract
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007, Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 228 per 100 ribu KH, disebabkan oleh eklamsi, hipertensi, dan perdarahan. Ruptur perineum merupakan salah satu dari beberapa penyebab terjadinya perdarahan yang dapat menyebabkan kematian. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di BPM Hj.Yatmika, S.S.T.,M.Kes. pada periode Januari s.d Desember 2014, dari 55 persalinan terdapat 43 (78,18%) persalinan yang mengalami ruptur perineum. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui hubungan antara paritas dan berat bayi baru lahir dengan kejadian ruptur perineum pada persalinan normal di BPM Hj. Yatmika, S.S.T., M.Kes. periode Januari s.d Desember tahun 2014.
Jenis penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Adapun teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling, yaitu dengan data sekunder dengan cara melihat SOAP Partograf. Subjek yang diteliti adalah seluruh ibu bersalin normal di BPM Hj. Yatmika, S.S.T.,M.Kes. Kota Cirebon periode Januari s.d Desember tahun 2014, yaitu sebanyak 62 pada 29
Desember 2014 s.d 03 Januari 2015.
Berdasarkan hasil penelitian ibu bersalin yang mengalami ruptur perineum mayoritas berat bayi baru lahir 2500-4000 gram sebanyak 40 (64,5%) dari 62 (100%) hubungan antara paritas dengan kejadian ruptur perineum didapatkan hasil pvalue sebesar 0,087 dari nilai a 0,05 karena pvalue ≥ 0,05, maka keputusannya Ha ditolak, hubungan berat bayi baru lahir dengan kejadian ruptur perineum didapatkan hasil pvalue 0,001 dari nilai a 0,05 karena pvalue≤ 0,05, maka keputusannya Ha diterima.
Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian ruptur perineum, dan terdapat hubungan antara berat BBL dengan kejadian ruptur perineum. Oleh karena itu, diharapkan bidan dapat meningkatkan keterampilan dan kualitas pelayanan, sehingga dapat meminimalkan angka kejadian ruptur perineum
